
Dokter Yang Diremehkan
Siang itu, Dr. Rizki sedang dalam perjalanan ketika tiba-tiba ia melihat kerumunan orang di tengah jalan. Sebuah kecelakaan baru saja terjadi. Sebuah kendaraan ringsek setelah bertabrakan, sementara seorang korban tergeletak di dekat kendaraan dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan segera. Rizki langsung menghentikan kendaraannya dan berlari menuju korban. Sebagai seorang dokter, ia tahu bahwa beberapa menit pertama bisa sangat menentukan keselamatan seseorang. Ia berusaha memeriksa kondisi korban dan hendak memberikan pertolongan pertama. Namun sebelum Rizki sempat melakukan apa pun, beberapa orang di sekitar korban justru menghentikannya. "Jangan ikut campur!" Rizki mencoba menjelaskan bahwa dirinya seorang dokter dan hanya ingin membantu. Tetapi orang-orang tersebut malah menertawakannya dan meremehkannya. Mereka menganggap Rizki hanya berpura-pura menjadi dokter dan tidak percaya bahwa seorang pria yang kebetulan berada di jalan bisa benar-benar menyelamatkan korban. Rizki kembali mencoba mendekati korban, tetapi sekali lagi ia dicegah. Di tengah kerumunan yang semakin ramai, Rizki harus menahan rasa kesal dan frustrasinya. Ia tahu bahwa waktu terus berjalan, sementara kondisi korban semakin mengkhawatirkan. Ketika semua orang sibuk berdebat dan meragukan kemampuannya, Rizki menyadari bahwa ia tidak boleh membiarkan kesombongan orang lain membuat nyawa seseorang menjadi taruhannya. Ia akhirnya mengambil keputusan untuk bertindak. Bagi Rizki, menjadi seorang dokter bukan hanya tentang menyelamatkan pasien di rumah sakit. Ketika sebuah nyawa membutuhkan pertolongan, di mana pun ia berada, ia tetap seorang dokter.